Pages

Jumat, 16 April 2010

Pencuri yg Dapat Dipercaya

Pada suatu hari seorang pencuri datang menemui Rasulullah. Ia ingin menyatakan dirinya masuk Islam, setelah itu ia mengisahkan penyakit mentalnya. Bahwa ia suka mencuri. Lalu rasul memintanya untuk berjanji, bahwa dirinya tidak akan berbohong. Lelaki itupun berjanji, kemudian pergi menjalani hari-harinya.
Beberapa waktu kemudian, keinginan untuk mencuri muncul kembali. Tetapi lantas ia teringat dengan janjinya kepada Rasulullah, bahwa ia tidak boleh berbohong. Ia lantas membayangkan, jika ia mencuri, lalu kelak ditanya Rasulullah, maka bila berbohong ia telah menyalahi janjinya. Tapi bila ia berterusterang, ia akan mendapatkan hukuman. Sejak saat itu ia tidak lagi mau mencuri.
Sang pencuri telah belajar arti kepercayaan. Belajar pula bagaimana menjaga dan membuktikannya. Ia telah membunuh penyakitnya, dengan semangat kepercayaan. Ia dipercaya Rasulullah untuk mengatur dirinya. Dan ia mengerti bagaimana merawat kepercayaan Rasulullah itu mnejaga kepercayaan. Sikap itu pula yang pada akhirnya mengantarkan dirinya menjadi seorang Muslim yang baik. Sikap itu adalah percaya dan pada saat sama juga dapat dipercaya.

Saudaraku ... kepercayaan memang bukan hal mudah. Apalagi memberikan kepercayaan kepada orang yang baru kita kenal, pasti akan banyak pertanyaan di kepala untuk meyakinkan bahwa orang tersebut dapat dipercaya atau tidak. Begitupun dalam sebuah tim, rasa percaya amat sangat penting kita tanamkan. Karena kita beaktifitas dengan berbagai macam orang yang notabene memiliki karakter yang berbeda. Tapi bukan hal yang sulit jika kita mau memberikan rasa itu kepada saudara kita.
Rasa percaya akan muncul jika dalam satu tim sudah ada kesatuan visi, sehingga ketika kita bergerak, masing-masing orang sudah mengambil peran sesuai yg sudah di sepakati bersama. Walaupun memang tak jarang kepercayaan itu bisa dengan mudah tergadaikan hanya karena alasan sebuah materi.
Kepercayaan adalah rahasia hidup yang paling rumit. Sebab ia perlu timbal balik. Seperti kehidupan suami istri, atasan dan bawahan di kantor, rakyat dan pemimpin, masyarakat dan tokohnya, saudara dengan saudaranya. Kepercayaan satu arah tidak akan bisa menjadi jaring kebersamaan.
Kepercayaan satu arah kadang sering menyakitkan, bahkan kadang menistakan. Seperti para penguasa yang selalu meminta rakyatnya untuk berprasangka baik, padahal mereka menindas dan menyelewengkan otoritas, menjual aset-aset bangsa yang strategis. Mereka adalah penguasa yang hanya ingin hidup di atas prasangka baik rakyatnya tanpa mau memenuhi hak-hak prasangka baik itu.
Kepercayaan sejujurnya tidak bisa diukur oleh sesuatu yang sifatnya materil. Surat-surat perjanjian, surat kesepakatan, surat pernyataan, atau bahkan undang-undang sekalipun, hanyalah alat mengikat kebersamaan. Tetapi rohnya-sekali lagi tetap pada soal kepercayaan.
Seni hidup yang dibangun di atas kepercayaan, seperti dalam kisah-kisah sejarah yang melegenda itu, sesungguhnya milik orang-orang yang punya keinginan baik, meski ia seorang mantan pencuri. Dalam ranah yang sangat sederhana, kepecayaan menjadi mutiara hidup yang membahagiakan. Tetapi entahlah. seperti para penguasa, atau orang-orang yang haus kekuasaan, lebih mudah untuk mengkhianati kepercayaan dan menyebarkan dusta.
Akhirnya, kepercayaan adalah suara hati, bukan suara keangkuhan. Kepada seorang pencuri di zaman nabi itu kita bisa belajar, bahwa menjadi orang yang dapat dipercaya, dan yang dapat menjaga kepercayaan, adalah pilihan serius bagi yang menginginkan kesudahan yang menentramkan.
Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita menjadi orang yang amanah ???

dari berbagai sumber.

0 komentar:

Poskan Komentar